Pulau Doom, sebuah pulau kecil yang menyimpan banyak jejak sejarah di setiap sudutnya, menjadi tujuan kunjungan ekowisata mahasiswa Program Studi Bisnis Digital dan Manajemen Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong pada Minggu 13 Juli 2025. Dalam kegiatan yang sarat edukasi ini, para mahasiswa tidak hanya menyelami keindahan alam, tetapi juga diajak menjelajahi jejak sejarah yang tertanam dalam tanah dan bangunan tua Pulau Doom.
Dipandu oleh Kak Ica, seorang pemandu wisata lokal, para mahasiswa diperkenalkan pada sejarah Pulau Doom sebagai pulau penting di masa silam. Salah satu fakta mengejutkan yang dibagikan adalah bahwa Pulau Doom merupakan lokasi Masjid pertama yang berdiri di tanah Papua, menjadikannya titik awal penyebaran Islam di kawasan ini.
Tidak jauh dari gua, para peserta juga melihat sejumlah rumah dan gereja peninggalan zaman Belanda, yang masih berdiri dengan gaya arsitektur kolonial khas. Bangunan-bangunan ini menjadi saksi bisu percampuran sejarah keagamaan dan kolonialisme di wilayah tersebut.
Puncak kegiatan adalah kunjungan ke Gua Jepang, sebuah bungker peninggalan tentara Kekaisaran Jepang pada masa penjajahan Indonesia. Para mahasiswa dipandu langsung oleh Kak Yuliana, penjaga sekaligus pengelola situs Gua Jepang. Dalam cerita yang disampaikannya, Kak Yuliana mengungkap bahwa keluarganya terutama sang ibu telah menjaga gua ini sejak tahun 1997, menjadikannya sebagai warisan yang tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual.
Diketahui bahwa dari 32 bungker Jepang yang dulu tersebar di Pulau Doom, kini hanya tersisa 16 yang masih aktif dan dapat diakses dan Gua Jepang adalah salah satunya. Para mahasiswa menyusuri lorong gelap dan sejuk gua, membayangkan masa ketika tempat itu digunakan sebagai pusat pertahanan dan persembunyian pasukan Jepang.
Perjalanan tidak berakhir di dalam gua. Para peserta diajak naik ke atas sebuah bukit, di mana terdapat gereja tua yang masih berdiri dan sebuah pohon natal unik yang dibuat dari cangkang kerang. Pohon ini bukan pohon biasa — pohon tersebut pernah mencatatkan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) dengan kategori pohon hiasan natal pertama dan terbanyak yang menggunakan cangkang kerang, pohon ini juga menjadi simbol harmoni antar umat beragama yang hidup berdampingan di Pulau Doom.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang wisata biasa. Bagi para mahasiswa, kunjungan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana situs sejarah lokal bisa diangkat melalui strategi branding digital dan pengelolaan berbasis masyarakat.
“Kami belajar bahwa tempat seperti Pulau Doom memiliki nilai besar yang belum banyak diketahui. Tantangannya adalah bagaimana mengenalkan potensi ini lewat digitalisasi dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan,” ujar Arini, mahasiswa Bisnis Digital.
Kunjungan ditutup dengan refleksi bersama, menyadari bahwa perjalanan ke Pulau Doom bukan hanya menyenangkan, tapi juga mengajak untuk merenungi sejarah, mengenal budaya lokal, dan menanamkan semangat pelestarian. (HMT)